17 March 2016

Catatan harian di penghujung tahun : Aku dan ke-akuanku ; Terima Kasih Ibu !


Rintik hujan di penghujung senja. Seakan  turut  mengantarkan sang surya kembali ke peraduannya. Burung-burung kecil terdengar riuh di rerimbunan pohon beringin. Sepertinya mereka tetap saja bergembira. Walau butiran air dari sela dedaunan  mengenai tubuh mungil mereka. Atau aku yang salah mengira? Karena aku manusia yang seringkali merasa tahu segalanya ?
Manusia memang aneh. Ya. Manusia sepertiku . Aku bilang ingin bahagia. Tapi aku malah memilih menderita. Bingung dengan sederet impian yang membumbung tinggi ke angkasa. Susah memikirkan keinginan yang tak terlaksana.  
Aku bilang aku kaya. Semestinya aku benar-benar menjadi orang kaya. Yaitu orang yang suka berbagi hartanya untuk sesama. Bukan justru sibuk mencari cara. Agar harta orang lain berpindah ke kantongnya.
 Aku bilang aku orang pintar. Dan kenyataannya memang aku sangat “pintar”. Berhasil mengelabui banyak orang. Bermain-main dengan jabatan. Mengumbar janji atas nama Tuhan. Kau masih meragukan kepintaranku ?
Itulah aku. Aku yang selalu bersama ke-akuanku. Sampai akhirnya aku dipaksa putus hubungan dengan ke-akuanku. Oleh Tuhanku. Dengan cara yang menyakitkan. Menyengsarakan. Menistakan. Aku divonis penjara!. Aku  dihina di mana-mana. Aku  sudah tak bermuka. Bahkan aku hendak menghilangkankan nyawaku sendiri karena malu tiada terkira.
Butuh waktu untuk berproses. Butuh waktu untuk hadirnya sebuah kesadaran bahwa sesungguhnya diriku terselamatkan dari ke-akuanku. Tuhan telah menyelamatkanku. Dengan cara-Nya. Dan tentunya ini juga  berkat doa Ibuku. Seorang ibu yang selalu mendoakan keselamatanku. Seorang ibu yang tulus ikhlas selalu mendampingiku. Baik dalam suka apalagi saat duka. Terima kasih Ibu ! 
“Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orangtuaku serta kasihilah mereka seperti mereka mengasihiku waktu kecil”.
“ Ya Hayyu Ya Qayyum, dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan, baguskanlah semua urusanku, dan jangan Kau tinggalkan aku sendiri pada “nafs”ku walau sekejab mata”.




Tuban, 21 Desember 2015
by.atin5757 
Post a Comment