31 August 2015

Buah Bibir


( dan jadikanlah aku buah tutur yang baik baik orang- orang (yang datang) kemudian ). QS, 26 : 85.

Semua yang memiliki jiwa pasti akan mati. Jika sudah saatnya tiba maka dimanapun , kapanpun, bagaimanapun keadaan kita, kita tidak akan bisa mengelak dari kematian. Ada yang sebelum ajal sudah sakit berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, ada yang sedang enak-enak istirahat di rumah tiba-tiba gempa dan ia harus meninggal karena tertimpa reruntuhan rumahnya. Ada pula yang mati kecelakaan di jalan bukan sebab dia melanggar peraturan akan tetapi karena ditabrak dari belakang. Begitulah, penyebab kematian memang bermacam-macam,  terkadang karena hal sepele yang tidak pernah kita bayangkan dan kita duga sebelumnya.
Kematian adalah sebuah keniscayaan. Semua dari kita tinggal menunggu giliran. Akan tetapi naluri manusia ingin hidup lebih lama bahkan kalau bisa hidup 1000 tahun lagi. Alquran menceritakan bagaimana Nabi adam as terpaksa harus turun ke bumi untuk menebus kesalahannya setelah  memakan buah khuldi karena terpedaya dengan iming-iming dari iblis agar bisa hidup kekal, bahagia selamanya di surga. Maka bisa dikatakan menunggu giliran kematian adalah kebalikan dengan jika kita mengantri berobat di dokter. Orang  berobat ke dokter terutama yang sakit parah dalam hatinya tentu ingin mendapat nomer antrian awal agar bisa segera mendapatkan penanganan kesehatan.
Kematian merupakan gerbang yang harus dilalui untuk memasuki kehidupan akherat. Untuk menuju gerbang ada yang namanya kehidupan dunia. Kehidupan dunia hanyalah sementara. Kehidupan dunia dibatasi oleh waktu. Waktu dimana ajal menjemput kita, tak peduli kita mau atau tidak. Karena terbatas waktu maka kita tidak bisa berleha-leha. Semua agama mengajarkan kepada umatnya untuk melakukan hal terbaik dalam hidupnya. Hal terbaik yang dimaksud adalah hal prilaku dan perbuatan. Dunia adalah tempat bercocok tanam untuk memanen hasilnya di akherat kelak. Apa yang kita tanam ? yang kita tanam adalah prilaku, perbuatan, sikap. Perbuatan/sikap terhadap diri sendiri, sesama mahkluk dan perbuatan/sikap kepada Sang Khalik. Semua itu  biasa disebut dengan amal. Sebagaimana bercocok tanam tanaman seperti padi, sayuran dan lain sebagainya yang harus memperhatikan aturan dan tata cara agar mendapatkan hasil panen yang berkualitas dan melimpah maka bercocok tanam amal juga demikian adanya. Dan semua aturan serta tata cara dalam beramal  sudah diterangkan dalam agama.  Aturan-aturan tersebut harus kita patuhi supaya amal yang kita perbuat selama di dunia tidak sia-sia alias “tiwas kloro-kloro hasile ora ono”.
Hal penting lain yang perlu kita camkan adalah bahwa apapun perbuatan yang kita lakukan semasa di dunia pasti sedikit banyak akan terekam dan tercatat oleh orang-orang disekitar kita. Mereka akan membicarakan hal yang baik-baik tentang kita jika di mata mereka kita selalu berbuat kebaikan, tetapi sebaliknya jika kita sering atau selalu melakukan perbuatan tercela dan bahkan menyakiti mereka maka tentu mereka akan menjadikan kita sebagai obyek pembicaraan yang tidak baik. Apabila pembicaraan yang buruk itu terjadi berulang-ulang dan terus menerus hingga mencapai beberapa generasi atau bahkan tidak terhenti sampai kiamat maka alangkah ruginya kita. Naudzubillah min dzalik. Apalagi ternyata persaksian orang lain terhadap prilaku kita di saat kita meninggal juga memiliki dampak bagi kita. Dampak yang akan kita terima di alam berikutnya.
Maka, ketika kita meninggal, ketika maut sudah menjemput kita, tidak penting apa tulisan yang ada di nisan kita, sesungguhnya yang lebih penting adalah apa perkataan generasi sepeninggal kita tentang diri kita. Semoga kita bisa, amin.


Sidorejo, Tuban, 5 April 2015
            By. Atin5757


Post a Comment