31 August 2015

Hati Yang Penuh Cinta


“cinta ku kepada Allah tidak menyisakan ruang kosong dalam diriku untuk rasa benci kepada setan”
(Rabiah al Adawiyah)
Kawan, pernahkah kalian merasakan marah, iri, dengki dan benci serta semua anak turunnya
( seperti dendam kesumat ) kepada makhluk lain tepatnya kepada orang lain ? tentu banyak sekali alasan dan penyebab sehingga kita mengalami emosi seperti yang tersebut di atas. Mungkin karena teman kita membocorkan rahasia kita, kita punya teman yang sok kaya, atau teman yang “rese” yang selalu usil dengan apa yang kita lakukan. Teman yang melalukan persaingan dengan cara tidak sehat. Lalu masalahnya, salahkah kita jika rasa benci bercongol di hati kita ?
Sebenarnya wajar dan sangat manusiawi jika  ada di antara kita yang punya rasa benci kepada orang lain karena bukankah memang manusia punya sisi positip dan juga sisi negatif ? dan bukankah karena dua sisi itulah manusia menjadi makhluk yang berbeda dengan malaikat dan juga berbeda dengan setan? Berarti tidak jadi soal dong kalo kemudian kita marah, iri, benci dan lain sebagainya....
Eit tapi tunggu dulu kawan, walaupun itu hal yang sangat manusiawi, akan tetapi jangan kemudian dijadikan alasan bagi kita untuk terus menerus menumpuk benci di hati kita..he he emangnya kenapa?  Karena benci itu ibarat bom lho, yang namanya bom suatu saat bakal meledak, kalo sudah meledak...wah tak terbayang akibatnya..nah, sudah tahu bahaya bom, kok kita malah menyimpannya, tidak cuma satu malah berpuluh puluh bom, kalau kemudian itu meledak entah apa yang terjadi dengan sekelilingnya...hi bayangkan saja sendiri..
Kawan, demikian juga dengan benci, jika kita terus menerus benci kepada seseorang maka sesungguhnya kita juga sedang terus mengundang bahaya bagi diri sendiri yang tentu saja suatu saat akan mencelakakan kita atau bahkan membinasakan diri kita...mati!. ya..kita bisa mati muda lho kawan, karena bukankah kesehatan sebagian besar berasal dari pikiran yang sehat dan bersih ? benar deh, kalau kurang jelas boleh di cek di ruang konsultasi kesehatan via online.
So, ngapain kita nyusahin diri sendiri dengan rasa benci kepada orang lain ? ngapain kita membikin badan dan hati kita sakit gara-gara mikirin kejelekan orang lain ? atau jangan-jangan sebenarnya orang lain tidak bermaksud jelek hanya prasangka buruk kita ? wah...kalau hal itu terjadi maka benar-benar kebencian akan menjadi bom bagi diri sendiri. Toh, ingat kawan, kita pun punya sisi negatif, dan kita pun tak ingin dibenci orang lain kan ? Maka marilah kita mencermati kata-kata dari Rabiah al-Adawiyah saat beliau ditanya seseorang apakah beliau membenci setan, ternyata Rabiah al-Adawiyah menjawab tidak, beliau menegaskan bahwa cintanya kepada Allah tidak menyisakan ruang kosong untuk rasa benci kepada setan. Wow keren sekali ya...padahal itu makhluk setan sudah jelas-jelas jahat dan menjadi musuh kita, tapi Rabiah tidak mau memikirkan setan, baginya semua kejelekan dan kejahatan yang dilakukan setan adalah tanggung jawab setan sendiri di hadapan Allah, ngapain Rabiah ikut memikirkan atau bahkan benci kepada setan ? Daripada sibuk mikirin setan lebih baik  waktu Rabiah dihabiskan untuk meraih cinta Allah. He he he Bagaimana dengan kita kawan ? Padahal amal perbuatan kita masih serabutan, masih seperti puasa senin kamis, berbeda dengan Rabiah al-Adawiyah yang sungguh-sungguh dalam mencari ridhonya..
Oke kawan, mari kita sama-sama intropeksi diri, jika kita berbuat suatu kesalahan kepada orang lain maka sebaiknya cepat-cepatlah minta maaf agar tidak menimbulkan kebencian di hati orang itu, sebaliknya jika mungkin kita kita mendapatkan hal yang menyebalkan, menyakitkan dari orang lain, jangan lah di masukkan hati, biarkan itu menjadi tanggungjawabnya kelak di akherat. Alangkah damaianya ini jika hati kita selalu full berisi cinta, cinta kepada sesama makhluk terutama manusia. Mari kita berlomba-lomba meraih prestasi yang gemilang menjadi khalifah di muka bumi dengan tanpa merasa benci kepada orang lain. Pasti bisa !




Buah Bibir


( dan jadikanlah aku buah tutur yang baik baik orang- orang (yang datang) kemudian ). QS, 26 : 85.

Semua yang memiliki jiwa pasti akan mati. Jika sudah saatnya tiba maka dimanapun , kapanpun, bagaimanapun keadaan kita, kita tidak akan bisa mengelak dari kematian. Ada yang sebelum ajal sudah sakit berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, ada yang sedang enak-enak istirahat di rumah tiba-tiba gempa dan ia harus meninggal karena tertimpa reruntuhan rumahnya. Ada pula yang mati kecelakaan di jalan bukan sebab dia melanggar peraturan akan tetapi karena ditabrak dari belakang. Begitulah, penyebab kematian memang bermacam-macam,  terkadang karena hal sepele yang tidak pernah kita bayangkan dan kita duga sebelumnya.
Kematian adalah sebuah keniscayaan. Semua dari kita tinggal menunggu giliran. Akan tetapi naluri manusia ingin hidup lebih lama bahkan kalau bisa hidup 1000 tahun lagi. Alquran menceritakan bagaimana Nabi adam as terpaksa harus turun ke bumi untuk menebus kesalahannya setelah  memakan buah khuldi karena terpedaya dengan iming-iming dari iblis agar bisa hidup kekal, bahagia selamanya di surga. Maka bisa dikatakan menunggu giliran kematian adalah kebalikan dengan jika kita mengantri berobat di dokter. Orang  berobat ke dokter terutama yang sakit parah dalam hatinya tentu ingin mendapat nomer antrian awal agar bisa segera mendapatkan penanganan kesehatan.
Kematian merupakan gerbang yang harus dilalui untuk memasuki kehidupan akherat. Untuk menuju gerbang ada yang namanya kehidupan dunia. Kehidupan dunia hanyalah sementara. Kehidupan dunia dibatasi oleh waktu. Waktu dimana ajal menjemput kita, tak peduli kita mau atau tidak. Karena terbatas waktu maka kita tidak bisa berleha-leha. Semua agama mengajarkan kepada umatnya untuk melakukan hal terbaik dalam hidupnya. Hal terbaik yang dimaksud adalah hal prilaku dan perbuatan. Dunia adalah tempat bercocok tanam untuk memanen hasilnya di akherat kelak. Apa yang kita tanam ? yang kita tanam adalah prilaku, perbuatan, sikap. Perbuatan/sikap terhadap diri sendiri, sesama mahkluk dan perbuatan/sikap kepada Sang Khalik. Semua itu  biasa disebut dengan amal. Sebagaimana bercocok tanam tanaman seperti padi, sayuran dan lain sebagainya yang harus memperhatikan aturan dan tata cara agar mendapatkan hasil panen yang berkualitas dan melimpah maka bercocok tanam amal juga demikian adanya. Dan semua aturan serta tata cara dalam beramal  sudah diterangkan dalam agama.  Aturan-aturan tersebut harus kita patuhi supaya amal yang kita perbuat selama di dunia tidak sia-sia alias “tiwas kloro-kloro hasile ora ono”.
Hal penting lain yang perlu kita camkan adalah bahwa apapun perbuatan yang kita lakukan semasa di dunia pasti sedikit banyak akan terekam dan tercatat oleh orang-orang disekitar kita. Mereka akan membicarakan hal yang baik-baik tentang kita jika di mata mereka kita selalu berbuat kebaikan, tetapi sebaliknya jika kita sering atau selalu melakukan perbuatan tercela dan bahkan menyakiti mereka maka tentu mereka akan menjadikan kita sebagai obyek pembicaraan yang tidak baik. Apabila pembicaraan yang buruk itu terjadi berulang-ulang dan terus menerus hingga mencapai beberapa generasi atau bahkan tidak terhenti sampai kiamat maka alangkah ruginya kita. Naudzubillah min dzalik. Apalagi ternyata persaksian orang lain terhadap prilaku kita di saat kita meninggal juga memiliki dampak bagi kita. Dampak yang akan kita terima di alam berikutnya.
Maka, ketika kita meninggal, ketika maut sudah menjemput kita, tidak penting apa tulisan yang ada di nisan kita, sesungguhnya yang lebih penting adalah apa perkataan generasi sepeninggal kita tentang diri kita. Semoga kita bisa, amin.


Sidorejo, Tuban, 5 April 2015
            By. Atin5757


Alam Yang Selalu Indah


Membicarakan  keindahan alam adalah membahas sesuatu yang menarik. Menarik untukku dan juga bagimu. Kok tahu ? Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Indah dan menyukai keindahan maka manusia diciptakan-NYA dengan sangat indah disertai naluri mencintai keindahan. Karena itu, siapapun manusianya tidak bisa mengingkari bahwa ia suka akan keindahan. Walau sesuatu dianggap indah itu terkadang sangat subyektif. Apa yang menurut satu orang indah belum tentu indah menurut orang lain. Sawah dengan padi nan hijau  membentang belum tentu semua orang mengatakan itu alam yang indah. Mungkin sekali ada yang menganggap hanya biasa-biasa saja.
Manusia adalah makhluk yang indah dan cenderung mencintai keindahan. Mata, mulut, otak dan hati merupakan bagian dari indera yang dianugerahkan Allah kepada manusia yang berkaitan langsung dengan keindahan. Manusia melihat keindahan melalui mata, lalu otak menerima informasi tersebut dan mengungkapkan lewat mulutnya dengan berdecak, berucap: suhanallah, amboi bagus nian, wow keren abis, ajibb,  jempol 7 kali, dst. Sedangkan dengan hati, manusia bisa merasakan keindahan yang dia lihat. Tanpa hati sesungguhnya apa yang dia lihat, dia ucapkan tidak akan membekas apapun pada dirinya.
 Allah memerintahkan kita untuk mempergunakan sumber daya alam yang telah diciptakan untuk kepentingan manusia. Kita juga diperintahkan untuk melakukan perjalanan dalam rangka mentadabburi ciptaan Allah. Bentuk dari tadabbur adalah melihat, mempelajari dan mengambil hikmah dari alam, dari kejadian-kejadian, dari semua semua ciptaan Allah termasuk juga menikmati keindahannya.  Menyaksikan keindahan alam akan membuat hati menjadi rileks, nyaman dan tentram. Ada  yang hobi mengunjungi pantai, mendaki gunung, menyusuri hutan dan sungai, dan ada juga menikmati kicauan burung. Hal tersebut biasanya dilakukan sesuai dengan minat yang konon bisa menggambarkan keadaan jiwa mereka masing-masing.
Seisi alam ini memang indah mempesona. Gunung tinggi menjulang, laut nan luas terbentang, pepohonan hijau menyejukkan, kicau burung bersahutan , gemericik air yang menentramkan, udara bersih yang terasa segar didada dan seterusnya. Semuanya sangat menakjubkan dan menawan. Tapi sayang, sebab ulah manusialah sesuatu yang indah berubah  buruk dan bisa menjadi sumber malapetaka. Penebangan pohon secara liar dan membabi buta, perburuan margasatwa tiada henti, sampah dan limbah pabrik menumpuk diperairan adalah diantara  perbuatan manusia yang telah menjadi sebab rusaknya harmoni alam.  
Manusia memang suka keindahan tapi teryata sering lalai untuk merawatnya. Benar begitu ? Lalu apa yang bisa perbuat agar alam kita senantiasa indah ? jawabannya satu, perbaiki hati,  bersihkan hati, baguskan hati. Kok bisa ? Ya, Karena hati yang kotor telah dipenuhi dengan keserakahan, ketidakpedulian, semena-mena. Wujudnya mereka akan menebang pohon secara liar dan membabi buta,  memburu marga satwa yang dilindungi,  mencari ikan dengan merusak terumbu karang, membakar hutan secara serampangan, dst. Mereka hanya mementingkan kepentingan pribadi, tidak peduli dengan apa yang terjadi akibat perbuatannya. Hati yang kotor telah menyebabkan manusia lupa akan sesamanya. Sebaliknya, dengan hati yang bersih maka manusia akan berusaha sungguh-sungguh dalam mengelola alam serta merawatnya. Karena naluri  mencintai keindahan alam akan menjaga dirinya dari berbuat yang bisa merusak alam dan keindahannya.


Sidorejo, 25 Agustus 2015
byAtin5757








Bercermin



 
Kristania Virgiana Besouw, perempuan berparas cantik kelahiran Menado, peraih miss indonesia 2016 yang juga pernah menjadi duta unicef spesialisasi “campak” ternyata rela melepas status kewarganegaraanya dari WNI menjadi warga negara Amerika karena diterima menjadi tentara AS.sebuah prestasikah ?
Semua tergantung dari sisi mana kita melihat, memahami dan menilai. Mungkin ada yang berkata”wow, keren sekali...” karena baru kali ini seorang perempuan berlatar profesi model yang identik dengan dunia glamour, “isik2 awak” kemudian memilih menjadi seorang tentara yang job deskripsinya jauh berbeda dengan dunia yang dijalani sebelumnya. Apalagi dia bergabung menjadi tentara pada sebuah negara besar  yaitu Amerika yang menurut sebagian orang adalah negara adidaya, negara bergengsi, “Atase wong Indonesia wae lho kok klebu dadi tentarane negoro AS, sopo wong sing gak melu bangga ?”. Tentu sah- sah saja komentar seperti itu.
Semua orang memang punya hak penuh dalam menentukan dan menjalani pilihan hidupnya terkecuali jika justru pilihan hidupnya malah mengganggu kehidupan orang lain. Kita tentu ingat pak BJ Habibie dimana beliau sempat memintarkan orang Jerman dengan ilmunya dikarenakan saat itu bangsa Indonesia belum menghargai ilmuwan ( bagaimana dengan sekarang ?)dan tapi kemudian pemerintah Indonesia insyaf sehingga memanggil pulang beliau guna memintarkan bangsa sendiri.  Lalu bagaimana dengan pilihan hidup si cantik Kity ? bisa jadi darah tentara yang mengalir pada dirinya itu yang menjadi motifnya. tapi maaf, yang terlintas dalam pikiran saya adalah : andaikata ada pertempuran antara tentara AS dengan tentara Indonesia (naudzubillah min ndzalik) bagaimana perasaaannya ?
Apapun motif dia, bagiku ini adalah “sesuatu” hal yang perlu direnungkan bersama tentang Nasionalisme. Bahwa generasi muda perlu dipupuk rasa nasionalismenya. Bahwa pada kenyataannya dalam sejarah tercatat,tentara Indonesia adalah tentara yang super tangguh, tentara yang tak pernah menyerah kalah apalagi bertekuk lutut kepada bangsa manapun, berbeda dengan tentara AS yang pernah kalah dengan tentara Vietnam.
Dan tapi keputusan untuk melepas status kewarganegaraanya dari WNI menjadi warga negara Amerika demi menjadi tentara AS menurutku adalah lebih baik dari pada WNI yang diam-diam bergabung dengan ISIS !
So, tak perlu kata "penghianat" kita lontarkan kepadanya. justru sebuah kalimat pertanyaan tuk diri kita, " Seberapa besarkah Nasionalisme di hati ku ?"
Salam damai selalu.
                                                                                                                    Rabu, 18 Maret 2015

Kembali


Suasana kamar  sepi. Penghuni nya sudah berangkat beraktivitas. Ada yang sekolah, ada yang bekerja. Tinggal seorang temanku. Ia sedang berada di bawah. Mungkin masih mandi. Aku sendiri. Mataku menjadi lebih awas. Memandang kesana-kemari. Telingaku pun lebih peka andaikata ada suara jejak-jejak kaki yang mendekati. Sedang tanganku, tanganku sepertinya sudah tidak sabar untuk bergerak. Dan, lagi-lagi aku tak sanggup melawan keinginanku ! ayo, cepat, tunggu apa lagi ? toh tidak akan ada yang tahu.. Hatiku bergetar. Ini kesempatan. Jangan kau sia-siakan. Waktu tak akan berulang kembali. Demikian bisikan dari belakang telingaku. Ayo, tak perlu banyak berpikir. Semua harus dilakukan dengan cepat. Dan juga cermat. Agar jejak tidak terlacak. Suara-suara yang tak nampak. Menumpang pada pesan moral kebaikan, semakin kuat terdengar. Aku tak kuasa lagi. Dan, tak ada lima menit, akhirnya uang 50 ribuan milik temanku yang masih mandi tlah berpindah ke sakuku. Berhasil ! bagus, kau memang berbakat untuk menjadi pencuri kelas kakap. Bersaing dengan para pejabat yang tak malu mengambil uang rakyat. He-he, aku ketawa sendiri mendengar suara tanpa bunyi. Aku segera bergegas pergi. Lumayan. Lima puluh ribu. Pulsa handphone ku akan bebas hambatan selama sebulan.
Entah ini pesantren keberapa..aku lupa. Yang jelas, karena kelakuan inilah aku berpindah-pindah pesantren. Seakan tidak kapok. Keluargaku juga tidak bosan berhenti mengantarkanku ke pesantren. Seperti 5 hari yang lalu. Dengan kakak laki-lakiku, aku menghadap seorang kyai. Kakakku berharap aku bisa sembuh. Penyakitku tlah stadium tiga. Keluargaku sampai geleng-geleng kepala. Tak habis pikir karena kami adalah keluarga berada.  Di depan kyai, kakak pun mengutarakan maksudnya. Aku hanya tertunduk. Diam.  Ada secuil kalimat yang timbul dihati. Aku pasti hanya sebentar di pesantren ini. “Siapa namamu Cung ? pertanyaan pak kyai membuyarkan lamunanku. “Muhsinin”. Aku menjawab lirih. “Nama yang sangat bagus”, sahut beliau. Pak kyai lalu mengangkat tangannya, berdoa. Kami berdua pun turut mengamininya.
Hatiku sungguh gelisah. Tak seperti waktu-waktu yang lalu. Saat aku berhasil dengan aksiku. Handphone aku matikan. Tapi sebentar kemudian ku nyalakan. “Dik, tak tunggu di masjid al-awwabin”. Ku baca pesan singkat itu dengan terbata-bata. Kakak mencariku. Pasti dapat laporan atas aksiku. Ah..kenapa begitu sulit menghindar dari desakan keinginan itu ?.
Dua orang pengurus pondok telah berdiri di samping kakakku. Sepertinya mereka habis berbincang serius. “Dik, kamu ini memang bandel. Malu-maluin keluarga. Apa memang sudah tidak bisa berubah ? apakah tidak bisa menyenangkan hati bapak dan ibu ? apakah mencuri itu membahagiakanmu?” Suara kakak seperti memekakkan telingaku. Wajahku merah padam. Entah malu, entah marah. Aku tak tahu. “Ingat, namamu adalah muhsinin, orang yang baik, terpuji”. Kata kakak. “Ayo kembali ke pondok, minta maaf ke pak kyai”, lalu kakak menarik tanganku dengan hentakan yang keras.
Inilah saatku dikeluarkan lagi dari pesantren. Inilah akibat dari perbuatanku. Kamu memang calon bajingan. Kamu tidak pantas tinggal di pesantren. Kalimat-kalimat itu seakan berjalan dihadapanku. Seperti iklan baris di TV. Semua orang yang aku lewati seolah-olah mencibirku. Sambil berucap, “ hai, pingin tahu preman pondok ? inilah orangnya”.
“Aku sudah tahu sifatmu yang suka mencuri dari kakakmu. Keluargamu ingin sekali kamu berubah. Penyakit serakah dan tamak mu harus disembuhkan. Maka aku pun menerimamu. Apalagi jaminan dari keluargamu untuk mengganti setiap kerugian yang terjadi. Akibat aksi pencurianmu.  Andaikata dilain waktu di pesantren ini ada yang kehilangan maka engkaulah tersangka utamanya. Dan kau harus berkata jujur, apa adanya. Tapi aku berharap, ini adalah aksimu yang terakhir. Bagaimana sanggup ?”, Pak kyai bertutur halus kepadaku.

Alhamdulillah..aku berucap. Lirih. Rasanya hatiku seperti disiram air yang sejuk. Aneh. Seakan tak percaya. Ternyata masih ada pesantren yang mau memberi kesempatan kedua bagiku. Walaupun tentu beresiko bagi nama baik pondok. Tapi itulah seharusnya. Karena Pesantren  laksana bengkel manusia. Dan aku bertekad tuk kembali, kembali ke jalan yang lurus, yaitu jalan yang telah Allah anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan jalan mereka yang sesat. Amin.

29 August 2015

MIMPI



Entah sudah berapa lembar kertas terlempar  ke dalam tong sampah. Lagi dan lagi.Bak bola basket di tangan pemain senior. Ah..ternyata menulis cerpen tak semudah yang ku kira. Semakin terobsesi rasanya malah tak bisa mengeluarkan ide-ide cemerlang. Semua teori menulis hanya berputar-putar di dalam kepala. Menambah pusing saja.
Teng..teng...teng....bunyi kentongan dari pos ronda kampungku terdengar bergema di dinding kamar. Berdentang keras tiga kali. Ku lirik tulisanku. Baru dapat satu paragraf, itupun penuh coretan di sana sini. Lalu kapan selesainya ?
“ Menulislah seperti menari”, kata mentorku tadi siang. Tapi, bagaimana  bisa menari apabila tak sekalipun pernah menari ?.“Menulislah seperti ngulek sambel “, kata temanku. Wadduuh, aku paling tidak suka ngulek sambel, mataku selalu pedih dibuatnya. Kalau begitu, “Menulislah seperti orang lagi ngomel “, saran terakhir aku dengar di telinga dengan begitu jelas. Wow...bagaimana mungkin, aku kan tipe orang penyabar ? masak disuruh ngomel ? bukankah kita tidak boleh marah ? Benar-benar aku tak mampu !
Ku tatap langit-langit kamar. Sepasang cecak terlihat sedang mengintai mangsa. Seekor nyamuk kecil yang telah menjadi gemuk dengan darahku seakan sedang mengantarkan diri untuk menjadi santapan besar mereka. Tinggal menanti waktu. Aku turut menunggu. Tak terasa lima belas detik terlewati...dan yuup...
Nyamuk itu tertelan dalam perut cecak, bersamaan dengan rebahnya tubuh ini di atas pembaringan. Dua mataku sudah tak kuat menahan kantuk. Pertanda alami bahwa tubuh  butuh istirahat. Betapa egoisnya jika hak-hak tubuh terabaikan. Lalu,“Bagaimana dengan nasib tulisanku ?”, masih saja ada tanya di hatiku.
Sudahlah... matahari belum terbit dari timur kan? yang terpenting saat ini adalah teruslah mimpi dalam hidup. Karena langkah awal bagi seseorang untuk menjadi besar adalah memberanikan diri untuk bermimpi. Mimpi indah tentunya. Dan langkah berikutnya adalah tiada bosan untuk mewujudkan mimpi-mimpi indah itu dalam kenyataan. So,selamat bermimpi kawan !

 Edisi belajar, 1309014
                                                                                                                   atin5757